Bukan dalam keadaan kosong kita menghadap. Melainkan telah menimbang-nimbang dengan akal. Hanya hati saja belum mantap. Maka shalatlah, lalu berdoa.
Mungkin dari nash doa itu, ada jawaban. Setidaknya kalimat,
Allahumma in kunta ta’lamu anna hadzal amr khairun lii fii dini
wa ma’asyi wa ‘aqibatihi amri faqdirhu lii, tsumma barik lii
mengingatkan bahwa kebaikan diri dalam agama, ma’isyah, dan akibatnya di dunia dan akhirat lah yang jadi pemberat. Begitulah yang bisa dilakukan manusia, ikhtiar, yang dalam persepsi orang Indonesia artinya berusaha. Termasuk di dalamnya, ikhtiar, yang secara bahasa berarti memilih.
Setelah itu, berharap Allah mentakdirkan kebaikan. Akhirnya manusia mesti ridha terhadap segala ketetapan Allah, sebagaimana penutup yang manis doa itu,
Waqdur lii al khair haitsu kaana tsumma raddhinii bihi
Dan takdirkanlah kebaikan untukku di mana pun, kemudian jadikanlah aku ridha menerimanya
Wallahu a’lam bis shawab
Link : Jawaban Ustadz Sarwat; Doa Istikharah
0 tanggapan:
Post a Comment