Pages

Jan 13, 2011

Bekal Untuk Mereka

Saya ingin menyajikan potongan tulisan M. Fauzil Adhim yang menarik. Ini dia.

“Ya... ya... ya... masa terus berganti. Kita tak bisa meminta anak-anak untuk menjadi seperti kita. Seperti nasihat Ali bin Abi Thalib, kita didik anak-anak kita untuk sebuah zaman yang bukan zaman kita. Terserah mereka akan jadi apa, yang penting akidah, iman, dan komitmen mereka sama dengan kita atau lebih teguh lagi.”

Saya nggak tau jaman seperti apa yang akan dihadapi oleh anak-anak kita. Persepsi bahwa anak kita harus-menjadi-ini bukanlah pandangan yang bijak. Sebab persepsi kita itu lahir dari pola kehidupan jaman kita. Sehingga perlu ada ruang kebebasan bagi mereka untuk memilih cita-citanya.

“Apa yang kita lakukan dengan waktu kita bersama anak? Salah satunya, membangun keyakinan, arah hidup, dan cita-cita ideologis anak. Tidak penting kelak mereka akan menjadi apa, asalkan semuanya dalam kerangka mencari ridha Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan proses pembentukan visi  hidup ini berlangsung selama mereka asyik bercanda dan berbincang dengan kita.”

Hmm gitu ya Pak, ada ruang kebebasan, tapi mesti ideologis.

Masih kata Fauzil Adhim, ada hasil-hasil riset yang menunjukkan bahwa kedekatan emosi yang aman (secure attachment) antara anak dan orang tua, sangat berpengaruh terhadap penerimaan diri, harga diri, dan percaya diri anak nantinya. Sementara percaya diri sangat berpengaruh terhadap kecakapan untuk menyesuaikan diri secara tepat dengan lingkungan dan kemampuan sikap tegas. Anak-anak yang percaya dirinya rendah cenderung mudah dipengaruhi oleh lingkungan, kurang berani berikap tegas, dan kurang mampu belajar dengan baik (tidak memiliki sense of competence).

Artinya ada lagi bekal yang perlu diberikan selain ideologi, yaitu karakter. Karakter terbentuk melalui kedekatan emosi yang hangat. Nah, melalui buku yang sedang saya bicarakan ini, Fauzil Adhim juga memberi contoh interaksi, kata-kata, atau reaksi dari orang tua yang dapat membangun jiwa atau melemahkan jiwa anak.

5 tanggapan:

  1. jadi penasaran,kira2 bagaimana nantinya mendidik anak ya???

    #bijakfputranto

    ReplyDelete
  2. @ cebong : judulnya "Saat Berharga Untuk Anak Kita"
    @ bijak : kapan gan mulai mendidik anaknya? :D

    ReplyDelete
  3. hola mas erik! piye kabare? :D

    selamet yo mas, wis diterimo ning perusahaan listrik sing pualing terkenal seindonesiaraya kui :D

    gan, kapan mulai didik anak?

    *pertanyaan standar*
    *menyudutkan*
    *ampun gan*

    -dimas.m-
    -bapakke talitha dan albarra-

    ReplyDelete
  4. hoho lamo idak besuo, alhamdulillah kabar baik, thanks2...

    tp gw suka pertanyaan itu mas :D :D :D

    btw, wis nduwe 2 to kowe... selamet2

    ReplyDelete