Pages

Sep 27, 2010

Palembang Itu

Palembang itu, datar. Memang tanahnya datar. Nyaris nggak ada tanjakan.  Dari bandara sampai Ampera, banyaknya tanjakan bisa dihitung dengan jari sebelah tangan.

Palembang itu, kota perdagangan. Coba jingok sepanjang jalan Sudirman, dari charitas sampai masjid agung. Di sebelah kanan kiri jalan penuh dengan toko dengan berbagai macam jualan. Ada toko helm, toko besi, toko spare part kendaraan bermotor, restoran, toko buku, toko makanan, kantor-kantor kecil, dan banyak lagi. Bentuk bangunannya seragam. Nyaris nggak ada yang khas. Bukan nyaris ding, memang nggak ada. Di jalan Atmo juga gitu.

Jingok juga pasar 16. Lebih ramai lagi. Bentuk bangunan pasar 16 mirip toko-toko di jalan sudirman. Bedanya, di sudirman tersebar di sepanjang jalan, sedangkan di pasar 16, terpusat di satu area yang cukup luas.

Ada juga pasar cinde. Konon di sini gilo sekali, semuanya ada. Mulai barang yang mudah didapat seperti HP, jam tangan, gagang pintu, sampai barang yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya seperti propeler alias baling-baling kapal. Oya? Ya, konon kalau tentara AL kekurangan dana untuk beli propeler impor, mereka lari ke pasar cinde. Mereka tinggal menyerahkan desainnya dan, tunggu beberapa hari pasti jadi,eh Insya Allah ding.

Cerita gilo lainnya, kalau tiba-tiba pompa air di depan rumah kamu hilang misalnya, cobalah jalan-jalan ke pasar ini. Insya Allah ketemu. Tapi kamu harus bayar tentu saja alias beli kalau pengen ngedapetin lagi.

Di palembang, nggak ada indomaret, yomart, alfamart, dan maret-maret lainnya. Adanya kios-kios biasa yang kalau kujingok, rata-rata dikelola oleh orang keturunan Cina. Konon emang orang cina lah yang menguasai perdagangan di sini. Gagang pintuku yang rusak, kubeli gantinya di toko cina. Belanja bahan makanan juga di warung cina. Minyak wangi dalam botol kecil sepuluh ribuan yang oleh temenku dinamai minyak jumatan itu pun kudapati juga di toko cina. Salut deh sama orang cina. FYI, orang Palembang itu ada dua macam, keturunan cina dan arab.

Sewaktu masih di bandung, aku terkesan sama ramainya bisnis franchise makanan, yang selalu menghadirkan makanan baru, dengan gerobak meriah. Di sini sama sekali nggak nampak tuh. Bisnis makanan kreatif nggak menjamur. Makanan tradisional masih mendominasi, ada di mana-mana. Malah nggak jarang toko pempek letaknya berdekatan. Orang sini emang demen banget sama makanan tradisional, terutama pempek. Sarapannya pempek. Nggak makan pempek bisa pusing.

Jenis-jenis makanan tradisional selain pempek: tekwan, burgo, martabak HAR, model, apa lagi ya... Yang pernah kucicip cuma pempek, tekwan, dan martabak HAR.

Akhir kata, Alhamdulillah di Palembang ada juga Bandung Book Center, toko buku favorit sewaktu aku masih tinggal di Bandung. Letaknya di jalan sudirman,deket IP. Diskonnya, 5-20%. Lumayan lah.

Sekian... Monggo yang lain berbagi ceritanya tentang Palembang, mbok menowo ada hal lain yang belum aku tau.

5 tanggapan:

  1. wah sudah jadi transmigran sekarang..

    ReplyDelete
  2. iyo ki keblasak ning kene

    ReplyDelete
  3. Nice Article, inspiring. Aku juga suka nulis artikel bidang bisnis di blogku : http://www.TahitianNoniAsia.net, silahkan kunjungi, mudah-mudahan bermanfaat. thx

    ReplyDelete