Jun 9, 2009

Afiliasi, Partisipasi, dan Kontribusi

Malam itu, saya kembali bernostalgia dengan pemikiran Anis Matta. Ya, sudah lama saya tidak menyentuh buku-bukunya lantaran pengaruh haditsul ifki. Kali ini, judul terbarunya sedang saya baca. Masih segar. Masih inspiratif. Sama seperti kesan yang saya tangkap dulu, ketika sedang gandrung-gandrungnya menyelami pemikirannya.

Ide-idenya, bagi saya, merupakan salah satu nutrisi pembangun rasa percaya diri. Muatannya yang sangat menghargai keberagaman keunggulan dan keterbatasan manusia, mampu membesarkan hati pembacanya. Rasanya, kemampuan intrapersonalnya sangat baik.

Berikut saya kutipkan sebagian isi dari buku Delapan Mata Air Kecemerlangan, karyanya...

***

Afiliasi, adalah tangga awal di mana seorang bergabung dan memperbaharui kembali komitmennya kepada Islam; menjadikan Islam sebagai basis identitas yang membentuk paradigma, mentalitas, dan karakternya. Dalam proses afiliasi ulang itu, kita memperbaharui komitmen kita dalam tiga hal. Pertama, komitmen aqidah yang menetapkan tujuan dan orientasi, atau visi dan misi kehidupan kita. Kedua, komitmen ibadah yang menentukan pola dan jalan kehidupan. Ketiga, komitmen akhlak yang menentukan pola sikap dan perilaku dalam seluruh aspek kehidupan.

Partisipasi, adalah tangga kedua di mana seorang Muslim telah mencapai kesempurnaan pribadinya, dari mana kemudian ia melebur ke masyarakat, menyatu, dan bersinergi dengan mereka, guna mendistribusikan keshalihannya. Dalam proses partisipasi itu, kita melakukan tiga hal. Pertama, komitmen untuk mendukung semua proyek kebajikan dan melawan semua proyek kerusakan di tengah masyarakat. Kedua, komitmen untuk selalu menjadi faktor pemberi atau pembawa manfaat dalam masyarakat. Ketiga, komitmen untuk selalu menjadi faktor perekat masyarakat dan pencegah disintegrasi sosial.

Kontribusi, adalah tangga ketiga di mana seorang Muslim yang telah terintegrasi dengan komunitas dan lingkungannya (keluarga, perusahaan, dan masyarakat) berusaha meningkatkan efisiensi dan efektivitas hidupnya. Hal ini dilakukan dengan cara menajamkan posisi dan perannya, sesuatu yang kemudian menjadi bidang spesialisasinya, agar ia lebih tepat dan sesuai dengan kompetensi intinya. Dengan cara itu, ia dapat memberikan kontribusi sebesar-besarnya, dan menyiapkan sebuah "amal unggulan" atau karya terbesar dalam hidupnya. Amal yang ia persembahkan bagi Allah, umat, dan kemanusiaan secara umumnya, dan bagi komunitas sosial dan bisnisnya secara khususnya. Kontribusi itu dapat ia berikan dalam berbagai bidang; pemikiran, kepemimpinan, profesionalisme, finansial, dan yang lainnya.

Dengan melewati ketiga tangga tersebut, seorang Muslim menggabungkan tiga kekuatan sekaligus; kekuatan pribadi, kekuatan sosial, dan kekuatan profesionalisme.

0 tanggapan:

Post a Comment