"Fa idza qara'tal qur'ana fasta'idzbillahi minasy syathonir rojim"
"Apabila kamu membaca Al Qur'an hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari syaitan yang terkutuk"
"Apabila kamu membaca Al Qur'an hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari syaitan yang terkutuk"
Perhatikan. Kata qara'ta berbentuk fi'il madhi (past tense), yang maknanya telah membaca. Bukankah ta'awudz itu diucapkan sebelum membaca Al Qur'an? Mengapa redaksinya bukan 'apabila kamu akan membaca'? Apa hikmahnya?
Begini. Seringkali muncul godaan di sela-sela kita mengaji (membaca Al Qur'an-red). Baru selembar, ingat cucian. Baru dua lembar, ada SMS masuk. Baru tiga lembar sudah kelelahan. Masuk lembar kelima, priiiit... Pertandingan babak kedua Persib vs PSIS dimulai.
Lewat cara itulah setan mengganggu supaya kita berhenti mengaji. Makanya, kita tetap harus meminta perlindungan kepada Allah meski telah membaca satu dua tiga lembar agar terus dikuatkan. Di samping itu, tentu kita harus berusaha dengan sungguh-sungguh meneruskan bacaan serta mengabaikan bisikan-bisikan tadi.
Wallahu a'lam bis shawab

4 tanggapan:
jazkklh, sebagai pengingat ketika kita hendak tilawah. sedikit menambahkan, selain membaca taawudz juga perhatikan adab-adab tilawah seprti berwudhu, menghadap ke kiblat, bacaan tartil, dll. semoga bermanfaat.
eh sory ry, mau aku sing commentp
oke2 suwun2...
kita harus tiru kegigihan setan2 ini, yang tetap setia mengganggu walau kita sedang baca al-Qur'an...
apa sih gw.
Post a Comment