Jul 17, 2008

Yang Ini… Bukan yang Banyak Janji

Jadi orang tuh jangan kebanyakan janji. Yang penting buktinya meeeen…


  1. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) kota Bandung tahun 2002, semasa kepemimpinan Aa Tarmana, menduduki peringkat ke-14 nasional. Sebelum itu, kota kita ini berada di urutan 28. Tetapi pada tahun 2003 turun ke-20, tahun 2004 urutan ke-24, tahun 2005 urutan ke-43, dan tahun 2006 tahun melorot jadi nomor 49! Malah kita kalah dengan kota nun jauh di mato bernama Sorong!!! Kalah juga dibanding Depok (peringkat ketiga nasional). (data BPS Pusat 2006 dan Bappenas 2007)

  2. Mari kita tengok Punclut. Rencananya, di kawasan itu akan dibangun, hotel, restoran, cottage, cafe, pusat perbelanjaan modern, dan bangunan komersial lainnya (temenku ada yang mau KP di situ lho). Sekarang, proyek pembangunan jalan sepanjang 2,2 km dari Dago Bengkok hingga Punclut sedang dilakukan. Di sana bahkan telah berdiri Singapore International School. Padahal menurut aturan, kawasan Bandung Utara, termasuk juga Punclut merupakan daerah resapan air. Akibatnya, banjir tahunan melanda Bandung Selatan dan cekungan Bandung kekurangan suplai air. Kok bisa ya diijinin?

  3. Dua tahun lalu, pas saya tingkat tiga, kota kita tercinta ini tiba-tiba terkenal sebagai kota terkotor. Di sebelah kampus persis, ada gunungan sampah yang baunya tetap tercium walaupun sudah menutup hidung. Tempat lain pun banyak. Walhasil pemerintah kota kena ultimatum presiden.

  4. PLTSa, solusi yang ditawarkan pemkot atas masalah sampah masih menuai kontroversi, karena ditolak masyarakat dan banyak kalangan. Sampai sekarang, belum terlihat upaya eksekutif untuk mencari penyelesaian yang lain.

  5. Bandung punya Saritem, daerah bisnis prostitusi yang telah berjalan selama ratusan tahun. Pemkot akhirnya menutup daerah ini pada April 2007 dengan alasan ingin mewujudkan Kota Bandung Agamis. Tetapi rupanya penutupan itu cenderung bermuatan politis karena tempat-tempat praktek maksiat lainnya tetap beroperasi.

  6. Lalu lintas? Ya salaam, macet banget bung. Apalagi kalau akhir pekan. Deretan mobil mengkilap bakal berjajar di sepanjang jalan sekitar pusat perbelanjaan. Kualitas jalan pun buruk sekali. Lubang besar di mana-mana. Traffic light juga aneh, masa arah berlawanan hijaunya bersamaan. Kalau malam, jalanan gelap gulita. Lampu penerang jalan sama sekali tidak dipakai. Kacau banget lah pokoknya. Semarang aja ngga segitunya. Bertahun-tahun itu dibiarkan. Baru menjelang pilkada ini saja jalanan jadi halus mulus.

Yoi, yang ini bukan yang banyak janji. Teruskan langkah, ukir sejarah… Langkah naon? Sejarah nu kumaha?

4 tanggapan:

Anonymous said...

"Kalau malam, jalanan gelap gulita. Lampu penerang jalan sama sekali tidak dipakai. Kacau banget lah pokoknya. Semarang aja ngga segitunya."

ga juga owk,,,

sami mawon,,,peteng ndedet..

MANGO said...

ceritanya sedang membangun opini publik nih ya??? hehehe...

pokoke, terusken perjuanganmu nak!!!

errick said...

@ anonymous... wah sampeyan sampun nate lunga menyang bandung to? cobalah di ruas jalan tamansari, tubagus ismail, dst... semarang seingetku nggak segitunya... lampunya jalan masih nyala...

Anonymous said...

makanya adeknya di ajak ke bandung,,hehehe,,,,,

Post a Comment