Era blog telah meniadakan batas antara penulis dan bukan penulis. Sekarang, semuanya bisa jadi penulis. Mau menulis seperti apa pun pasti bisa dimuat, minimal di blog masing-masing. Memang tidak ada yang bisa melarang.
Ada baik, ada pula buruknya. Baiknya, sekarang semua orang bisa belajar untuk menjadi penulis dengan langsung menceburkan diri ke dalam dunia kepenulisan. Feedback dari para pembaca blog biasanya akan mendewasakan seorang blogger secara alamiah. Ada sejuta kemungkinan yang bisa terjadi setelah itu.
Di sisi lain, lahir pula generasi yang mengandalkan internet sebagai sumber pengetahuannya. Di negara-negara maju, sudah banyak pendidik yang kelimpungan lantaran anak didiknya mengerjakan tugas-tugasnya dengan mengandalkan informasi dari googling atau situs Wikipedia. Masalahnya, semua orang bisa menulis apa saja di internet, dan semuanya belum tentu benar.
Tentu saja ini tidak berarti bahwa menulis di internet itu sia-sia. Bagi seorang Muslim, ketika melihat kedua sisi jagad internet seperti di atas, tentu yang terlihat adalah peluang-peluang kebaikan. Akan tetapi, kita juga harus menyadari titik-titik bahayanya.
Interaksi via internet, pada kenyataannya, tidak bisa membuat kita mengenali orang lain dengan baik. Ketika budaya chatting merajalela di negara-negara Barat, muncul anekdot bahwa orang-orang biasanya tidak berkata jujur di internet. Lelaki paruh baya mengaku bujangan sukses, dan semua perempuan mengaku cheerleader demi mendapatkan pasangan impiannya. Nyatanya, yang kecewa jauh lebih banyak daripada yang berhasil.
Menilai orang dari blog mungkin memang lebih objektif daripada sekedar menilai dari kata-katanya di chatting, namun resiko ketidakjujuran masih tetap ada. Sekolah memang mengajari kita untuk tidak menilai orang dari penampilannya, namun itu bukan berarti kita tidak bisa menilai sama sekali dari sebuah proses tatap muka. Justru interaksi secara langsung itulah yang bisa membantu kita membuat penilaian yang paling menyeluruh terhadap lawan bicara.
Sekarang, era blogging sudah berganti ke arah microblogging. Orang tak perlu menulis panjang lebar lagi, cukup menulis satu-dua kalimat yang menggambarkan perasaan atau keadaan aktualnya. Di dunia Facebook, orang mengenalnya sebagai “status”; sebuah istilah yang menggambarkan ketidakbutuhan akan penjelasan maupun perdebatan. Orang menulis status bukan untuk didebat. Status adalah sebuah pernyataan pribadi; take it or leave it. Tidak ada yang bisa melarang orang menulis status apa pun, meskipun konsekuensinya tetap ada. Bisa saja kita dibenci orang banyak lantaran penulisan status yang kurang ajar, sebagaimana yang terjadi dalam kasus Evan Brimob belakangan ini. Tapi pada prinsipnya, semua orang bisa menulis apa saja sebagai statusnya. Namanya juga status!
Perlahan tapi pasti, kita dijauhkan dari budaya keilmiahan. Sebelum ada blog, orang berinteraksi secara langsung melalui diskusi-diskusi yang mendalam. Setelah ada blog, orang merasa cukup dengan interaksi lewat dunia maya, yang sebenarnya sangat terbatas. Pada era microblogging, orang tidak lagi merasa perlu bersusah payah merangkai kata. Segala hal bisa dikatakan, dan tak ada yang bisa mencegah. Terkadang sulit membedakan mana yang akal sehatnya berbicara dan mana yang emosinya meletup sesaat. Yang terakhir itulah yang ‘mendapat angin’ dari budaya microblogging ini.
Di mana-mana kita dapat melihat orang yang mengutuk-ngutuk Perusahaan Listrik Negara (PLN) melalui statusnya karena listrik di rumahnya sering padam. Memang masalah padamnya listrik membuat semua orang susah, dan memaki-maki itu memang gampang. Tapi mungkin tidak akan semudah itu kalau berhadapan langsung dengan pegawai PLN yang sebenarnya. Interaksi langsung memang menuntut kita untuk berpikir lebih mendalam.
Ketika menulis status, kita merasa ‘dituntut’ untuk mencurahkan perasaan kita. Kalau kesal ya katakan kesal, kalau ingin memaki ya silakan memaki. Tidak ada urusannya dengan orang lain, karena ini adalah status kita sendiri. Namun ketika berhadapan dengan pihak lain, maka kita mesti mempertimbangkan banyak hal. Kita bisa saja menulis bahwa PLN berbuat seenaknya mematikan listrik di komplek kita, namun belum tentu kita bisa berkata begitu di depan wajah pegawai PLN yang sudah berhari-hari banting tulang mengusahakan agar gardu listrik yang disambar petir bisa berfungsi kembali. Interaksi langsung menuntut tanggung jawab lebih; memaksa kita untuk melihat setiap kasus secara teliti dan menghindari generalisasi.
Masalah ‘kompetisi reptil’ antara kubu cicak dan buaya belakangan ini juga telah menyedot begitu banyak emosi di dunia maya. Sebenarnya yang membuat darah orang mendidih adalah munculnya istilah cicak dan buaya itu. Pernyataan arogan Susno Duadji memperburuk citra polisi di mata rakyat yang memang sudah tidak percaya lagi pada polisi. Di tengah-tengah keributan, muncullah Evan yang sama sekali tidak membantu Polri dalam memperbaiki citranya.
Menghadapi kasus ini, kita patut bertanya: apakah kita menentukan sikap karena memahami betul duduk persoalannya, atau karena sudah tidak percaya pada salah satu pihak? Apakah yang mati-matian membela KPK itu benar-benar yakin bahwa KPK tidak bersalah, atau memang sudah habis kesabarannya dengan polisi? Seringkali keduanya tak dapat dibedakan lagi, karena kita sudah terlanjur terbiasa bicara dengan emosi.
Kenyataannya, masyarakat memang banyak yang sudah tidak percaya lagi pada polisi. Seorang teman saya pernah berseloroh dan mengatakan, “Sumber dari segala kejahatan di muka bumi ini adalah Zionis, dan sumber segala kejahatan di negeri ini adalah polisi!” Sudah barang tentu tingkat kebenaran ucapan ini sangat diragukan, karena hanya berasal dari emosi sesaat. Akan tetapi, cukuplah ungkapan ini sebagai gambaran tingkat kepercayaan masyarakat.
Di berbagai tempat, kejahatan sudah menjadi rahasia umum. Masyarakat sudah tahu persis bahwa gedung ini dipakai tempat judi togel, perempatan ini tempat dagang narkoba, dan gang yang itu adalah sarangnya pelacur. Namun mereka tak tersentuh lantaran ada polisi yang menjadi backing-nya. Kalau masyarakat yang menggrebek, ujung-ujungnya dituduh main hakim sendiri. Tapi kalau polisi yang menangkap para pelacur, paling-paling hanya diambil datanya, diceramahi sebentar, besok paginya sudah bebas. Banyak pula yang melaporkan bahwa di daerahnya banyak terjadi pelacuran, justru di dekat kantor polisi.
Kita bisa saja memaki-maki polisi di dunia maya, namun belum tentu mampu melakukannya di hadapan seorang polisi sungguhan. Kalau bukan karena takut, mungkin karena malu, karena bisa jadi yang ada di hadapannya adalah polisi yang jauh sekali dari bayangannya.
Tidak semua polisi korup, jahat, dan menjadi backing dari para perusak negeri ini. Banyak polisi yang benar-benar membaktikan diri untuk negara dan membantu masyarakat dengan sekuat tenaganya. Mereka tidak makan uang haram, tidak juga melupakan kewajiban ibadahnya. Kalaupun belum pernah bertemu dengan polisi yang begini, bukan berarti mereka tidak ada ‘kan? Kalau dibalik, kita bisa saja mengatakan bahwa bisa saja ada anggota KPK yang korup, meskipun kita belum pernah bertemu dengan yang seperti itu.
Mari menjaga diri, menjaga akal dan keilmiahan sikap kita masing-masing. Peradaban Islam adalah peradaban ilmu. Kita tak mungkin mengembalikan kejayaan Islam kalau tidak mengembalikan dominasi ilmu dalam kehidupan kita. Banyak peluang kebaikan yang bisa kita dapatkan dari kegiatan blogging dan microblogging, namun pemahaman yang menyeluruh hanya bisa didapatkan dari interaksi langsung dengan kasus yang dihadapi dan pihak-pihak yang terlibat di dalamnya.
wassalaamu’alaikum wr. wb.
*****
dari : akmal.multiply.com