Dec 31, 2009

UU ITE, Tolak atau Terima?

Kontroversi mengenai UU ITE makin menjadi manakala seorang ibu ditahan karena mengirim surat elektronik yang berisi keluhan atas layanan sebuah rumah sakit, kepada rekannya. Semenjak itu, media massa cetak dan elektronik kompak memposisikan ibu itu sebagai korban UU ITE yang patut dikasihani. Air matanya, ekpresi wajahnya yang tegar tapi raut kesedihan tetap tak bisa ditutupi, anak-anaknya yang masih kecil. Kasihan memang, walaupun alhamdulillah sekarang sudah divonis bebas. Opini publik pun terbentuk. Terdengarlah nyanyian penolakan masyarakat terhadap undang-undang ini. Apakah menolak UU ITE adalah sikap yang tepat?

Kata Bang Romi, UU ITE merupakan cyberlaw-nya kita. Negara lain seperti Singapore, Malaysia, dan US sudah punya. Kita juga harus punya mengingat cybercrime merupakan kejahatan yang sulit ditindak dengan peraturan biasa.

Apa saja yang dilarang menurut UU ITE? Setidaknya ada dua bagian larangan, yaitu content dan teknis. Bagian pertama, misalnya pornografi, penghinaan, perjudian, pemerasan, dan penyesatan. Sedangkan bagian kedua misalnya menjebol keamanan situs, penyadapan oleh yang tidak berhak, menyebarkan software untuk menjebol keamanan, menyebarkan password, dan kejahatan cyber lainnya.

Nah, sejauh ini publik hanya menyoroti bagian content, wa bil khusus pasal pencemaran nama baik. Alasannya, pasal karet. Dengan alasan itulah masyarakat menolak UU ITE. Padahal aturan perihal teknik kejahatan cyber perlu dibuat. Padahal lagi, pasal nama baik itu, di dunia nyata pun bermasalah. Seingat saya, pernah ada seorang pembaca surat kabar yang dipenjara karena tulisannya di surat pembaca.

Jika tidak puas dengan UU ini, revisi adalah jalan tengahnya. Wajar lah, namanya juga aturan buatan manusia.

Ngomong-ngomong, supaya kita tahu rambu-rambu dalam beraktivitas di dunia maya, saya unggahkan potongan undang-undangnya. Monggo.

Dec 11, 2009

Kenapa Bahasa Arab?

Ada beberapa alasan (yang terkumpul dari mana-mana) mengapa bahasa Arab khususnya yang resmi, penting dipelajari.

Bahasa Arab, kata guru anismisme, adalah satu dari tiga bahasa terbesar, yang paling banyak dipakai di dunia, selain Inggris dan Cina. Ya iyalah, secara solat itu mesti pake bahasa arab gitu.

Bahasa Arab itu bahasa Al Quran. Sedangkan Al Quran adalah kitab suci agama Islam. Apa jadinya Islam tanpa Al Quran. Dan apa jadinya Al Quran tanpa bahasa Arab. Dengan menguasai bahasa ini, menghafal Al Quran, mentadabburi, dan memahaminya jadi lebih mudah.

Dengan menguasai bahasa Arab, kita bisa memahami kitab-kitab karangan ulama dengan tingkat distorsi yang kecil.

Bahasa Arab adalah bahasa persatuan umat Islam. Bahasa internasional negara-negara (berpenduduk mayoritas beragama) Islam.

Bagi orang Arab sendiri, bahasa Arab ini penting dipelajari. Sebagaimana orang kita menganggap bahasa Indonesia juga perlu. Sebab, belakangan ini bahasa 'ammiyah (sehari-hari) lebih banyak dipakai di negeri Arab daripada bahasa Arab fusha (bahasa Arab resmi/Al Quran). Misalnya, na'am (fusha) jadi aywa ('ammiyah). Konon, kata guru bahasa Arab lulusan timteng, orang Arab sendiri tidak menguasai bahasa Arab fusha.

Nah, di negeri sana itu, banyak pula digunakan bahasa-bahasa lahajat (dialek atau bahasa daerah). Misalnya bahasa Arab Maroko. Bahasa Maroko berbeda dengan Mesir, berbeda dengan Saudi. Akibatnya, muncullah kendala komunikasi ketika mereka bertemu. Kendala ini sedikit banyak menghambat persatuan. Memang belakangan muncul kesadaran untuk kembali ke bahasa resmi. Tapi, karena sudah terbiasa dengan bahasa daerahnya, mempelajari bahasa resmi pun jadi tak mudah bagi mereka. Orang Indonesia lebih mudah mempelajarinya.

Ada cerita dari salah seorang guru bahasa. Beliau punya teman orang Indonesia yang kuliah di Mesir. Bahasa sehari-hari yang digunakan di kampusnya adalah bahasa Mesir. Termasuk kuliah, bahkan ujian pun pakai bahasa Mesir. Padahal bahasa Mesir dan Arab, konon, bedanya cukup jauh. Jelas saja mahasiswa itu kesulitan, lha wong yang dia pelajari di tanah air
selama ini adalah bahasa Arab, bukan Mesir. Walhasil demi lulus ujian, ia menghafal mati redaksi materi-materi kuliah berbahasa Mesir yang tidak ia pahami itu. Kasarnya, kalau ada latihan soal, ia hafalkan redaksi soalnya dan redaksi jawabannya. Kemudian kalau ada soal ujian yang redaksinya mirip dengan contoh, ia tulis jawabannya sebagaimana yang dia hafal. Tanpa paham artinya. Masha Allah...

Ada satu sifat yang menarik dari bahasa ini, menurut saya, yaitu adanya keterkaitan makna dari kata-kata yang memilki akar kata sama. Wah, maksudnya? Mudah-mudahan saya bisa memberikan contohnya di lain waktu.

Ada lagi. Sastra Arab ternyata penting dipelajari, selain kosakata dan tata bahasa. Ilmu ini penting untuk memahami Al Quran. Contohnya, kata guru di Salman, iyyaka na'budu (kepada-Mu kami menyembah) itu artinya sama dengan na'budu iyyaka (kami menyembah kepada-Mu). Tapi secara sastra, maknanya berbeda. Kalau iyyaka na'budu itu artinya hanya kepada-Mu kami menyembah. Sedangkan na'budu iyyaka maknanya kami menyembah kepada-Mu, dan juga menyembah matahari, dan juga bintang, dan berhala, dan dukun, dan lainnya. Subhanallah...

Wallahu a'lam, yang salah dari tulisan ini mohon dikoreksi...

Dec 1, 2009

Menjadi Versatilis

Pernah dengar nasehat ini: Jangan mau jadi pegawai, karena bla bla bla. Jadilah pengusaha, agar kekayaan Anda tak terbatas. Jadi kaya itu ngga harus kuliah, malah ngga perlu sekolah. Sekolah tidak mengajari kita cara menjadi kaya. Untuk apa sekolah yang lamanya belasan bahkan puluhan tahun itu jika lulusannya hanya menjadi pegawai perusahaan atau peneliti. Dan seterusnya. Pernah?

Ada lagi nasehat lain, yang saya ketahui pertama kali dari Bung Romi. Jadilah versatilis. Seorang versatilis adalah spesialis yang mampu menjual kemampuannya, dan mampu membuat produk yang berguna, sesuai bidang keahliannya. Versatilis tak hanya dalam di satu bidang ilmu, tetapi juga berwawasan dan mengerti bisnis, sehingga bisa menangkap peluang. Versatilis memiliki keunggulan dejure (prestasi akademik, gelar pendidikan, sertifikat keahlian) dan defacto (prestasi bisnis, kemampuan praktis) sekaligus. Kemampuan yang demikian itu tidak muncul tiba-tiba, melainkan melalui perjalanan cukup panjang seorang spesialis yang pernah pula menjadi pegawai.

Pendukung ide pertama yang fanatik, seumur hidup tidak mau menjadi pegawai. Jika ia menganutnya sejak kuliah, ia menyesali 'nasib' masuk perguruan tinggi. Ia membenci kuliahnya, membenci program studinya, membenci kurikulumnya yang tidak mengajarinya cara menjadi kaya. Baginya, jalur pendidikan tinggi adalah jalur menjadi pegawai. Tetapi ia suka statusnya: mahasiswa bisa bergerak bebas.

Penyeru ide kedua justru berpendapat bahwa level pendidikan yang tinggi merupakan bekal berharga untuk berbisnis, asalkan kita pintar mencari bekal keahlian. Bahkan berangkat dari ide ini, kita bisa membawa bangsa ini setara dengan bangsa sana yang menguasai ekonomi, menjajah dan berbuat kerusakan, dengan berbekal ilmu pengetahuan yang tinggi.

Saya suka dengan hadirnya ide kedua ini, karena ia merupakan opini tandingan di tengah maraknya ide pertama (waktu itu). Ide ini sekaligus memperkaya wawasan kita yang sedang memilih-milih jalan hidup. Selain itu, ide ini tidak membuat mereka yang sudah kadung berpendidikan tinggi menyesal, sehingga dapat mensyukuri nikmat.

Sifat moderat juga nampak darinya. Ia terletak di antara yang pertama dan ide ketiga, yang banyak dianut secara turun temurun oleh rakyat negeri ini, yaitu: sekolahlah kamu tinggi-tinggi agar kamu mudah mendapatkan pekerjaan tetap dengan menjadi pegawai sehingga hidupmu tentram.

Omong-omong tentang pegawai, sebetulnya saya tidak mempermasalahkan profesi ini. Karena manusia yang paling baik adalah yang paling bertaqwa kepada Allah. Jadi? Mari kita memilih pilihan hidup sesuai kecenderungan kita, sambil terus belajar, menggali kemampuan, dan berdoa, serta tanpa merendahkan orang lain. Setuju?

Kompetensi Inti (1)

Lagi-lagi copas, sebuah tulisan beraliran anismisme, yang juga enak dibaca dan perlu. Saya kutip dari buku Dialog Peradaban, Anis Matta. Sebetulnya buku itu diedit oleh Suherman, M.Si yang mencoba membandingkan pemikiran Anis Matta dan Ary Ginanjar Agustian. Monggo...

Para pahlawan mengajarkan kaidah kepada kita, bahwa seseorang hanya akan menjadi besar, meledak sebagai pahlawan, jika ia bekerja secara optimal pada kompetensi intinya. Sebab pekerjaan-pekerjaan yang kita tuntaskan, yang kemudian membuat kita dicatat sebagai pahlawan, dijadikan mudah oleh Allah SWT karena memang Ia menyiapkan kita untuk pekerjaan itu.

Tetapi sebenarnya tidak ada manusia yang dapat mene
mukan keseluruhan potensi yang terpendam di dalam dirinya sekaligus. Setiap kita membutuhkan waktu yang panjang untuk mengeksplorasinya, menemukannya, baru kemudian menggali dan mengeksploitasinya. Sebelum kemudian diakhiri oleh kematian, setiap potensi yang kita temukan dalam diri kita tidak pernah bersifat final. Yang bisa kita lakukan adalah membuat model-model analog, misalnya peta, yang dapat menghampiri gambaran keseluruhan potensi diri kita.

Setiap kita
membutuhkan waktu yang panjang
untuk mengeksplorasinya...
Karena itu, pencarian tidak boleh berhenti. Proses pemotretan dan pemetaan harus terus berlanjut. Kita hanya harus memastikan, bahwa semua potensi yang telah kita temukan langsung terpakai secara maksimal. Inilah konsep yang disebut sebagai pengenalan berkesinambungan.

Kompetensi Inti (2)

Beberapa hal berikut ini penting untuk kita perhatikan.
  1. Peta potensi yang tak pernah utuh. Pada dasarnya kita tidak mempunyai sebuah instrumen yang dapat kita gunakan untuk mengenali potensi diri kita secara menyeluruh dan bersifat pasti. Munculnya potensi-potensi diri kita sebagian besarnya dipengaruhi oleh faktor stimulan dan rangsangan lingkungan, sehingga boleh jadi saat ini kita mempunyai satu potensi yang masih terpendam dalam diri kita, yang hanya akan muncul suatu ketika akibat rangsangan lingkungan atau peristiwa tertentu lainnya. Bahkan, orang-orang besar yang pernah ada dalam sejarah, menurut sebuah catatan, hanya menggunakan sekitar lima persen sampai sepuluh persen dari total potensi yang mereka miliki.
  2. Pengenalan berkesinambungan. Selama peta potensi diri kita bersifat relatif, tidak utuh dan tidak pasti, maka satu-satunya langkah yang dapat kita lakukan adalah melakukan pengenalan berkesinambungan. Hanya dengan demikian, kita menjamin bahwa dari waktu ke waktu sebagian besar potensi diri telah kita kenali. Seperti juga dalam proses penambangan emas, tidak semua benda keras yang kita temukan adalah emas. Akan tetapi, kita toh harus melakukan eksplorasi secara terus menerus, dan setiap kali menemukan tambang emas, maka kita harus mengeksploitasinya. Begitulah seharusnya kita berinteraksi dengan diri kita sendiri; teruslah menggali dan menggali potensi yang terpendam di dalamnya. Gunakan rangsangan lingkungan dan berbagai peristiwa untuk memunculkannya, dan setiap kali kita menemukan potensi baru, kita harus sesegera mungkin mengeksploitasinya.
  3. Menetapkan kompetensi inti. Dari pengalaman panjang berkenalan dengan diri sendiri, menggali dan menggali potensinya, kemudian mengeksploitasi semua potensi yang kita temukan, maka secara perlahan kita akan merasakan bahwa hanya pada potensi tertentu saja kita dapat menjadi emas. Inilah yang kita sebut sebagai potensi inti.

Kompetensi Inti (3)

Kompetensi inti biasanya dapat dikenali melalui beberapa ciri.
  • Jika kita bekerja pada kompetensi inti, maka kita biasanya dapat dengan mudah menguasai pekerjaan tersebut, hingga ke detil-detilnya.
  • Jika kita bekerja pada kompetensi inti, maka kita biasanya dapat dengan mudah membangkitkan minat kita pada pekerjaan tersebut.
  • Jika kita bekerja pada kompetensi inti, maka kita biasanya dapat dengan mudah membangun rasa percaya diri kita, bahwa kita bisa sukses dalam pekerjaan tersebut.
  • Jika kita bekerja pada kompetensi inti, maka kita biasanya mempunyai kemampuan berimprovisasi dan berinovasi dalam pekerjaan tersebut.
  • Jika kita bekerja pada kompetensi inti, maka kita biasanya merasakan bahwa peluang perkembangan kita dalam pekerjaan tersebut cenderung lebih besar daripada yang kita rasakan pada bidang-bidang lain.
Sudahkah kita merasakannya?

Nov 24, 2009

Lidah

Ghibah, yaitu membicarakan orang lain dan beritanya benar.

Fitnah, yaitu membicarakan orang lain dan beritanya salah.

Ifk, yaitu berita yang kebenarannya tidak diketahui oleh penyampainya. Ia hanya mendengar saja dari orang lain. Istilah kitanya kabar burung.


(Sumber : Tazkiyatun Nafs, Said Hawwa)

Nov 17, 2009

Era Status

Ada postingan yang enak dibaca dan perlu dari orang. Monggo...

*****

assalaamu’alaikum wr. wb.

Era blog telah meniadakan batas antara penulis dan bukan penulis.  Sekarang, semuanya bisa jadi penulis.  Mau menulis seperti apa pun pasti bisa dimuat, minimal di blog masing-masing.  Memang tidak ada yang bisa melarang.

Ada baik, ada pula buruknya.  Baiknya, sekarang semua orang bisa belajar untuk menjadi penulis dengan langsung menceburkan diri ke dalam dunia kepenulisan.  Feedback dari para pembaca blog biasanya akan mendewasakan seorang blogger secara alamiah.  Ada sejuta kemungkinan yang bisa terjadi setelah itu.

Di sisi lain, lahir pula generasi yang mengandalkan internet sebagai sumber pengetahuannya.  Di negara-negara maju, sudah banyak pendidik yang kelimpungan lantaran anak didiknya mengerjakan tugas-tugasnya dengan mengandalkan informasi dari googling atau situs Wikipedia.  Masalahnya, semua orang bisa menulis apa saja di internet, dan semuanya belum tentu benar.

Tentu saja ini tidak berarti bahwa menulis di internet itu sia-sia.  Bagi seorang Muslim, ketika melihat kedua sisi jagad internet seperti di atas, tentu yang terlihat adalah peluang-peluang kebaikan.  Akan tetapi, kita juga harus menyadari titik-titik bahayanya.

Interaksi via internet, pada kenyataannya, tidak bisa membuat kita mengenali orang lain dengan baik.  Ketika budaya chatting merajalela di negara-negara Barat, muncul anekdot bahwa orang-orang biasanya tidak berkata jujur di internet.  Lelaki paruh baya mengaku bujangan sukses, dan semua perempuan mengaku cheerleader demi mendapatkan pasangan impiannya.  Nyatanya, yang kecewa jauh lebih banyak daripada yang berhasil.

Menilai orang dari blog mungkin memang lebih objektif daripada sekedar menilai dari kata-katanya di chatting, namun resiko ketidakjujuran masih tetap ada.  Sekolah memang mengajari kita untuk tidak menilai orang dari penampilannya, namun itu bukan berarti kita tidak bisa menilai sama sekali dari sebuah proses tatap muka.  Justru interaksi secara langsung itulah yang bisa membantu kita membuat penilaian yang paling menyeluruh terhadap lawan bicara.

Sekarang, era blogging sudah berganti ke arah microblogging.  Orang tak perlu menulis panjang lebar lagi, cukup menulis satu-dua kalimat yang menggambarkan perasaan atau keadaan aktualnya.  Di dunia Facebook, orang mengenalnya sebagai “status”; sebuah istilah yang menggambarkan ketidakbutuhan akan penjelasan maupun perdebatan.  Orang menulis status bukan untuk didebat.  Status adalah sebuah pernyataan pribadi; take it or leave it.  Tidak ada yang bisa melarang orang menulis status apa pun, meskipun konsekuensinya tetap ada.  Bisa saja kita dibenci orang banyak lantaran penulisan status yang kurang ajar, sebagaimana yang terjadi dalam kasus Evan Brimob belakangan ini.  Tapi pada prinsipnya, semua orang bisa menulis apa saja sebagai statusnya.  Namanya juga status!

Perlahan tapi pasti, kita dijauhkan dari budaya keilmiahan.  Sebelum ada blog, orang berinteraksi secara langsung melalui diskusi-diskusi yang mendalam.  Setelah ada blog, orang merasa cukup dengan interaksi lewat dunia maya, yang sebenarnya sangat terbatas.  Pada era microblogging, orang tidak lagi merasa perlu bersusah payah merangkai kata.  Segala hal bisa dikatakan, dan tak ada yang bisa mencegah.  Terkadang sulit membedakan mana yang akal sehatnya berbicara dan mana yang emosinya meletup sesaat.  Yang terakhir itulah yang ‘mendapat angin’ dari budaya microblogging ini.

Di mana-mana kita dapat melihat orang yang mengutuk-ngutuk Perusahaan Listrik Negara (PLN) melalui statusnya karena listrik di rumahnya sering padam.  Memang masalah padamnya listrik membuat semua orang susah, dan memaki-maki itu memang gampang.  Tapi mungkin tidak akan semudah itu kalau berhadapan langsung dengan pegawai PLN yang sebenarnya.  Interaksi langsung memang menuntut kita untuk berpikir lebih mendalam.

Ketika menulis status, kita merasa ‘dituntut’ untuk mencurahkan perasaan kita.  Kalau kesal ya katakan kesal, kalau ingin memaki ya silakan memaki.  Tidak ada urusannya dengan orang lain, karena ini adalah status kita sendiri.  Namun ketika berhadapan dengan pihak lain, maka kita mesti mempertimbangkan banyak hal.  Kita bisa saja menulis bahwa PLN berbuat seenaknya mematikan listrik di komplek kita, namun belum tentu kita bisa berkata begitu di depan wajah pegawai PLN yang sudah berhari-hari banting tulang mengusahakan agar gardu listrik yang disambar petir bisa berfungsi kembali.  Interaksi langsung menuntut tanggung jawab lebih; memaksa kita untuk melihat setiap kasus secara teliti dan menghindari generalisasi.

Masalah ‘kompetisi reptil’ antara kubu cicak dan buaya belakangan ini juga telah menyedot begitu banyak emosi di dunia maya.  Sebenarnya yang membuat darah orang mendidih adalah munculnya istilah cicak dan buaya itu.  Pernyataan arogan Susno Duadji memperburuk citra polisi di mata rakyat yang memang sudah tidak percaya lagi pada polisi.  Di tengah-tengah keributan, muncullah Evan yang sama sekali tidak membantu Polri dalam memperbaiki citranya.

Menghadapi kasus ini, kita patut bertanya: apakah kita menentukan sikap karena memahami betul duduk persoalannya, atau karena sudah tidak percaya pada salah satu pihak?  Apakah yang mati-matian membela KPK itu benar-benar yakin bahwa KPK tidak bersalah, atau memang sudah habis kesabarannya dengan polisi?  Seringkali keduanya tak dapat dibedakan lagi, karena kita sudah terlanjur terbiasa bicara dengan emosi.

Kenyataannya, masyarakat memang banyak yang sudah tidak percaya lagi pada polisi.  Seorang teman saya pernah berseloroh dan mengatakan, “Sumber dari segala kejahatan di muka bumi ini adalah Zionis, dan sumber segala kejahatan di negeri ini adalah polisi!”  Sudah barang tentu tingkat kebenaran ucapan ini sangat diragukan, karena hanya berasal dari emosi sesaat.  Akan tetapi, cukuplah ungkapan ini sebagai gambaran tingkat kepercayaan masyarakat.

Di berbagai tempat, kejahatan sudah menjadi rahasia umum.  Masyarakat sudah tahu persis bahwa gedung ini dipakai tempat judi togel, perempatan ini tempat dagang narkoba, dan gang yang itu adalah sarangnya pelacur.  Namun mereka tak tersentuh lantaran ada polisi yang menjadi backing-nya.  Kalau masyarakat yang menggrebek, ujung-ujungnya dituduh main hakim sendiri.  Tapi kalau polisi yang menangkap para pelacur, paling-paling hanya diambil datanya, diceramahi sebentar, besok paginya sudah bebas.  Banyak pula yang melaporkan bahwa di daerahnya banyak terjadi pelacuran, justru di dekat kantor polisi.

Kita bisa saja memaki-maki polisi di dunia maya, namun belum tentu mampu melakukannya di hadapan seorang polisi sungguhan.  Kalau bukan karena takut, mungkin karena malu, karena bisa jadi yang ada di hadapannya adalah polisi yang jauh sekali dari bayangannya.

Tidak semua polisi korup, jahat, dan menjadi backing dari para perusak negeri ini.  Banyak polisi yang benar-benar membaktikan diri untuk negara dan membantu masyarakat dengan sekuat tenaganya.  Mereka tidak makan uang haram, tidak juga melupakan kewajiban ibadahnya.  Kalaupun belum pernah bertemu dengan polisi yang begini, bukan berarti mereka tidak ada ‘kan?  Kalau dibalik, kita bisa saja mengatakan bahwa bisa saja ada anggota KPK yang korup, meskipun kita belum pernah bertemu dengan yang seperti itu.

Mari menjaga diri, menjaga akal dan keilmiahan sikap kita masing-masing.  Peradaban Islam adalah peradaban ilmu.  Kita tak mungkin mengembalikan kejayaan Islam kalau tidak mengembalikan dominasi ilmu dalam kehidupan kita.  Banyak peluang kebaikan yang bisa kita dapatkan dari kegiatan blogging dan microblogging, namun pemahaman yang menyeluruh hanya bisa didapatkan dari interaksi langsung dengan kasus yang dihadapi dan pihak-pihak yang terlibat di dalamnya.

wassalaamu’alaikum wr. wb.

*****

dari : akmal.multiply.com