May 21, 2008

Islam, Indonesia, dan Insinyur

Ada sebuah file powerpoint bagus yang saya download dari webnya Pak Hengki. Isinya tentang hasil interaksi beliau dengan Islam.

Diawali dengan penyampaian pertanyaan-pertanyaan beliau semasa kecil, seperti mengapa Islam harus diturunkan, mengapa turun di jazirah Arab, dan mengapa kepada Muhammad SAW. Kemudian beliau memaparkan data-data yang berhasil menjawab pertanyaan-pertanyaan tadi. Tapi ada pertanyaan yang sampai kini belum terjawab.

Islam menyebar dengan luas dan begitu cepat. Ini dikarenakan sifat Islam yang sesuai fitrah dan manusiawi, bukan malaikati apalagi hewani. Umat Islam pun begitu inovatif di masa kejayaannya. Banyak buku bercerita tentang penemuan-penemuan ilmuwan Islam di tahun 610-780 SM. Ilmu-ilmunya bahkan dipakai sebagai pondasi pengetahuan yang sekarang ini justru dikembangkan bangsa barat. Ironisnya, sejak 1901-2008 tidak ada nobel yang diraih orang Islam
kecuali nobel sastra dan perdamaian. Tidak ada nobel fisika, matematika, dan kedokteran. Tidak ada inovasi di bidang sains dan teknologi. Mengapa? Itulah pertanyaan yang belum terjawab.

Perusahaannya Pak Hengki, Rekayasa Industri, memang perusahaan nu hade pisan euy. Pada masa-masa awal berdirinya, Rekin merupakan satu-satunya perusahaan pribumi yang bergerak di bidang rancang pabrik. Wal aan Rekin telah membuktikan bahwa ternyata anak-anak bumiputra mampu membuat pabrik semen, pabrik pupuk, pipa bawah laut, dan pembangkit listrik tenaga panas bumi (yang sumber energinya kekal ilaa yaumil akhir insya Allah dan 40% kandungannya ada di Indonesia). Masya Allah!

Di slide terakhirnya Pak Hengki menggugat,

“Kenapa Insinyur Indonesia tidak mengembalikan kejayaan umat Islam dalam berinovasi dan berkarya sehingga menjadikan kita model bagi kebangkitan Islam?”

Teringat juga dengan pesan Syekh Shiam, mantan Imam Masjid Al Aqsha, waktu mengunjungi masjid Salman. Begini pesannya. “Apakah orang Indonesia perlu datang ke Palestina dan ikut berperang di sana? Tidak. Kami sudah kuat, insya Allah. Yang mesti kalian lakukan adalah belajar.” Ya, belajar agar mampu berinovasi dan berkarya.

Pesan Redaksi :

Selamat Menempuh Ujian Akhir Semester. Bangkitlah barudak ITB, harapan itu masih ada!

May 9, 2008

K U I S

Setting : di ruang kelas…

Bla… Bla… Bla… (bu dosen menerangkan)

“Sampai di sini kalian ngerti nggak?”

Siiiiiiiiiiiing… hening

“Kemarin saya suruh baca buku, udah dibaca belom?”

Siiiiiiiiiiiiiiiiiiing…

“Siapa yang udah baca???”

Siiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiing…

“Hah? Nggak ada? Satu pun nggak ada yang udah baca?”

Heeeee… Heeeeee…

“Ya udah sekarang kita kuis aja”

Eeeeaaaaaaa…

“Keluarkan kertas selembar. Cepet… Cepet… Cepet…”

Kresek… Kresek… Bagi kertasnya dong… Bagi dong… Bagi dong…

“Tulis soalnya. Nomer satu…”

Bla… Bla… Bla…

“Nomer dua…”

Bla… Bla… Bla…

“Kerjakan sendiri. Kamu jangan deket-deket duduknya. Pindah ke depan! Kamu juga! Cepet… Cepet…”

Kelas kembali sepi. Para mahasiswa menunjukkan ekspresi seolah-olah serius padahal bingung. Ada yang pura-pura menulis, menggerak-gerakkan bolpen, padahal bolpennya tidak menyentuh kertas sama sekali (itu aku, hehehe…) Semuanya (sebagian besar, ding) pasrah. Ya iyalah, secara nggak ada yang belajar gitu loh…

“Waktunya lima menit lagi!”

Kumpulin sekarang juga nggak papa, Bu. Lha wong nggak bisa…

*****

“Yak, waktu habis.”

Pfuiihhh…

Ada yang udah selesai? Nomer satu ada yang bisa? Nomor dua? Nomer dua gampang kan? Caranya itu begini kan… begini… begini… begini… Kalau nomer satu rada-rada susah. Caranya begini… begini… begini…”

Lho, kok langsung dibahas? Lha ini lembar jawab masih tak pegang iki piye. Kok nggak dikumpulkan?

“Oke, sekarang ngerti kan? Makanya kalau saya suruh baca ya dibaca. Ntar saya kasih kuis beneran lho.”

Senyum… Senyum… Senyum… Semua mahasiswa tersenyum. Lega… kecele… ketipu… Rupanya shock therapy ya, Bu…


NB : diilhami dari kisah nyata

May 4, 2008

Karakteristik Pembangunan

Berikut ini merupakan paradigma, di mana aktivitas pembangunan didasarkan pada tiga karakterstik, yaitu integral, universal, dan partisipasi total.

Integral. Bahwa program pembangunan di satu sektor tidak bisa dipisahkan dengan pembagunan di sektor lain. (1) Pembangunan ekonomi misalnya, tidak terlepas dari (2) pembangunan SDM yang berkualitas, (3) pembangunan politik yang adil dan jujur serta bersih dari penyimpangan, (4) pembangunan hukum yang berkeadilan, (5) pembangunan iptek yang bertumpu pada kekuatan sendiri, dan (6) pembangunan sosial budaya yang berakhlak. Paradigma ini, misalnya, akan meniadakan ketimpangan di mana pembangunan ekonomi fisik yang dominan (atau mercusuaris) menelantarkan pembangunan SDM, iptek mandiri, dan sosial budaya.

Universal. Bahwa aset-aset pembangunan itu mestilah dipergunakan untuk kepentingan lintas generasi, lintas teritorial, dan bahkan lintas kehidupan (dunia akhirat). Lintas generasi berarti harus berkelanjutan (sustainable). Jangan sampai pembangunan hari ini menyebabkan terpuruknya generasi-generasi berikutnya. Mungkin pembangunan kita telah mengabaikan hal ini, di mana pembangunan-pembangunan fisik yang gegap gempita di masa lalu membuat generasi sekarang menderita lantaran pembiayaannya melalui utang. Lintas teritorial, bahwa pembangunan di suatu tempat tidak menyebabkan tempat lain terlantar atau bahkan terkena dampak negatifnya. Dalam paradigma ini, terdapat pula visi pemerataan pembangunan dan ‘ke-ramahlingkungan-an’. Lintas kehidupan, menginspirasikan pelaku-pelaku pembangunan supaya berbuat sambil membangun pula akhirat yang lebih baik. Aktivitas mereka, dalam hal ini juga merupakan ekspresi relijiusitas mereka.

Partisipasi total. Bahwa pembangunan ini harus dilakukan oleh seluruh aktor pembangunan (pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat) sesuai perannya. Untuk itu diperlukan pemberdayaan masyarakat agar mereka setara sebagai mitra pemerintah dalam merumuskan kepentingan bersama. Tentu kesetaraan ini tidak hanya dari segi kedudukannya tetapi juga kualitasnya, sehingga diperlukan pendidikan politik.

Uraian di atas bukan hasil pemikiran mandiri, melainkan persetujuan atas konsep yang sudah ada. Konsep ini menurut saya selaku pimred patriotproklamasi (yeah…) perlu dipublikasikan untuk memperbarui paradigma kita tentang pembangunan. Tentu konsep ini dapat diterapkan pada pembangunan dalam berbagai level masyarakat, mulai masyarakat negara, masyarakat badan usaha, masyarakat kota, kecamatan, RW, RT, hingga masyarakat keluarga. Harapannya, akan lahir bapak-bapak pembangunan berikutnya (dan juga ibu-ibu kalau mau) yang membangun tidak atas dasar pragmatisme politik, tetapi kesempurnaan pekerjaan (ihsan).

Apr 22, 2008

Awas, Berbait Kata Ini Menipu!

Bimbang. Itu adalah judul nasyid yang dilantunkan oleh Suara Persaudaraan. Liriknya mengagumkan. Semula saya pikir biasa-biasa saja, seperti sedang menceritakan keindahan alam, mengagumi ciptaan Allah, dan seterusnya. Tetapi setelah disimak baik-baik, ternyata beda. Liriknya mengandung perumpamaan yang luar biasa.

Berikut ini liriknya, yang saya copy dari sini.


BIMBANG


Kulihat bunga ditaman
Indah berseri menawan
Cantik anggun dan jelita
Melambai - lambai mempesona

Semerbak bunga setaman
Semarak warna - warnian
Memancarkan keanggunan
Sejuk dalam cahaya Islam

Ada bertangkai mawar
Kaya akan wewangian
Hasanah yang memerah
Kuning ungu dan merah jambu

Ada si lembut melati
Pantulkan putih nan suci
Tebarkan harumnya yang khas
Tegar baja dimedan ganas

Si kokoh anggrek
berbaris serumpun
menanti siraman kasih
sejuk air jernih
rimbun senyum dahlia
palingkan gundah hara

***

Terhenyak daku tersadar
Semua itu bukan tujuan
Tetapi bunga Islam
yang tertaburkan benih iman pilihan

Terhenyak daku tersadar
Semua itu bukan tujuan
Tetapi bunga Islam
yang tertaburkan benih iman pilihan
Tetapi bunga Islam
yang tertaburkan benih iman pilihan
tertaburkan benih iman pilihan


Tahukah Anda apa maknanya?

Apr 21, 2008

Senyum Kemenangan

Oh ya? Bagi-bagi kue dong. Tapi tunggu dulu. Siapa bilang sudah menang? Belajarlah dari Depok dan Maluku Utara. Jalan masih panjang bung. Sekarang juga sudah ada tanda-tanda goyang kan...

Fasabbih bihamdi rabbika wastaghfirhu...

Apr 18, 2008

Ayat-Ayat Cinta a la Hidayat Nur Wahid

Ayat-Ayat Cinta, baik versi film ataupun novelnya sukses besar. Semua orang juga tahu. Film dan novel tersebut bermaksud menampilkan cinta dan pernikahan dalam warna Islam. Sebuah cara yang baik untuk menyampaikan nilai Islam kepada masyarakat muda Indonesia yang kulturnya, kata Hanung Bramantyo, didominasi budaya pop dan hedonistik.

Baru-baru ini, tokoh kita, Hidayat Nur Wahid melakukan hal yang secara tidak langsung berefek sama dengan Ayat-Ayat Cinta. Ya, kabar tentang pernikahan Ustadz kita ini santer terdengar. Setahu saya, beritanya sudah ada di detik.com sejak kemarin dan juga di TV One hari ini (17 April 2008).

Insya Allah tulisan saya ini bukan infotainment, karena saya selaku pimred patriotproklamasi hanya menyampaikan informasi-informasi bermutu (heleh…) dan tidak akan pernah (insya Allah) menampilkan gosip. Ini bukan infotainment.

Pak Hidayat belum lama ini (kalau tidak salah bulan Januari) harus berpisah dengan istrinya yang meninggal dunia. Tetapi dalam waktu relatif singkat, beliau sudah mendapatkan calon pendamping lagi. Langkah yang bagus. Supaya terhindar dari fitnah, kata Pak Hidayat. Beliau sendiri mengaku sejak sepeninggal istrinya, banyak wanita yang meminta dinikahi, baik itu lewat SMS, lewat perantara orang, ataupun yang lainnya. Bagi mereka, Pak Hidayat telah mendoakan semoga mendapat jodoh yang lebih baik. Keputusan ini pun sudah didukung penuh oleh anak-anaknya. Hebat ya.

Adapun calon istri beliau ini, ‘direkomendasikan’ oleh Ustadzah Yoyoh Yusroh, temannya, yang juga anggota DPR RI dari fraksi PKS. Mereka berdua baru pertama kali bertemu saat ta’aruf, dengan ditemani ustadzah Yoyoh. Sangat singkat prosesnya. Kalau tidak salah hanya tiga kali bertemu, sudah langsung khitbah (lamaran) dan langsung keluar tanggalnya.

Secara tidak langsung, Pak Hidayat, calon istrinya, dan juga Bu Yoyoh telah memperkenalkan salah satu proses pernikahan yang tidak melanggar syariat Islam. Islam memang melarang pacaran, tetapi mengakui bahwa fitrah manusia mencintai lawan jenis. Pernikahan adalah jawabannya. Tetapi proses untuk mendapatkan calonnya tidak melalui pacaran, yang lebih banyak mudharatnya dan ‘tipu-tipu’-nya, tetapi dengan cara ta’aruf. Calonnya diperkenalkan oleh orang yang terpercaya, misalnya ustadz. Setelah itu kita boleh bertanya jawab untuk saling mengenal lebih dalam pada forum yang dihadiri oleh muhrim masing-masing calon, secara jujur, terbuka, dan to the point. Nggak pake bumbu nggak pake gombal-gombalan. Solusi praktis untuk jomblo-jomblo, khususnya dari ITB, hehe…

Mar 30, 2008

Bukan Untuk Merayakan

Memuaskan. Saya pikir itulah kata yang pas saya lontarkan atas kinerja panitia Maulid Nabi DRM RT 07. Meski sejatinya banyak kekurangan dari segi teknis, saya melihat adanya kekompakan dan antusiasme panitia yang semuanya pemuda merupakan nilai positif.


Ya, pekan lalu kami mengadakan kegiatan syiar bagi masyarakat tempat tinggal. Penyelenggaraan acara ini memanfaatkan momen Maulid Nabi SAW yang jatuh pada tanggal 20 Maret. Ada dua bentuk kegiatan yang kami adakan terpisah. Pertama, acara rihlah anak-anak tepat pada hari libur Maulid Nabi SAW. Kami memilih tempat di Taman Ganesha alias tasha. Saya sendiri yang memilih taman ini karena memang hanya inilah tempat yang paling saya kenal. Selain itu tempat ini dekat dengan sekre PAS. Kebetulan danlap acara ini adalah salah seorang kakak PAS yang juga teman SMA saya.

Namanya anak-anak, selalu susah diatur. Inginnya anak-anak dihibur dengan games, tetapi rupanya mereka lebih suka hiburan yang apa adanya. Dari lima games yang direncanakan, hanya dua yang terlaksana. Tiga lainnya batal karena waktunya sudah keburu habis. Mereka lebih suka bermain perosotan di samping tangga taman. Mereka juga suka menjatuhkan diri sambil berguling-guling di tanah. Tahu jalan Skanda kan? Sisi tasha yang dekat jalan skanda itu kan ada tanah miringnya. Cukup tinggi dan curam. Nah si anak-anak berguling-guling di sana dari atas sampai bawah. Semuanya ikut, dari yang paling besar sampai paling kecil. Pokoknya capek lah ngaturnya. Kak danlapnya saja tampak kepayahan.

Acara keduanya, ta’lim umum, yang diselenggarakan pada tanggal 23 Maret bertempat di masjid Al Mi’raj, sebelah kosan saya percis. Lantai I penuh. Lantai II kosong. Lucu juga melihat Pak Ustadz berceramah. Biasanya, Pak Ustadz ini selalu serius kalau sedang mengisi materi di depan anak-anak Gamais. Tetapi yang sekarang ini, banyak gurauannya. Pakai bahasa Sunda. Ada nyanyinya pula. Lucunya lagi, Pak Ustadz malah lupa menyampaikan materi pesanan panitia. Ketika diingatkan, beliau spontan menjawab “Oya, lupa…” Yah, Pak Ustadz, kami panitia kan sudah men-setting acara sedemikian rupa. Begitu juga dengan targetnya. Masa lupa sih.

Sebetulnya menurut rencana, masih ada satu acara lagi, yaitu kompetisi futsal sehari. Tapi sayang dibatalkan karena satu dan lain hal. Berikut ini saya tampilkan juga foto-fotonya, seperti biasa.


Wong Fei Hung


Pas difoto anteng,
padahal tadi ributnya nggak karuan



Nah ini dia danlap impornya


Eh, kayak pernah liat deh...


Menyimak Pak Ustadz


Wah ini, bergaya seolah-olah kakak yang baik


Nggak ada ini nggak oke...

Mar 28, 2008

Batal Deh

Sebetulnya ada postingan baru yang lebih bermutu. Ada fotonya pula. Tapi gara-gara warnetnya nggak mendukung, dibatalkanlah. Akhirnya muncullah postingan bermutu rendah ini. Kecewa...